Home Pojok Cerpen: Berawal dari Mimpi

Cerpen: Berawal dari Mimpi

SHARE
cerpen: berawal dari mimpi (foto: frepik)

Hai-hai para pembaca. Sebuah kerjaan baru nih di saat lagi liburan. Kali ini It’s my story mau ngasih cerpen ya iseng sekedar untuk nemenin libur yang cukup membosankan ini. Cerita yang satu ini adalah request  dari salah seorang temen aku.

Berawal dari mimpi

Kau menjadi nyata dari sebuah mimpi

Menjelma menjadi sosok penjagaku

Mimpi buruk yang menjadi sebuah akhir bahagia

Itu kau

Berawal dari kehilangan

Tapi tanpa kehilangan itu aku tak mungkin bertemu kau

Sosok nyata yang menjadi penjagaku

Menjadi penyelamatku

Yang lahir dari sebuah mimpi

 

“ Nia, maafin aku ya. Aku pamit nih, mungkin aku nggak akan balik ke sini lagi “ suara itu berbisik di telinganya.

“ Serius, kok cepet banget perginya? “ tanyanya tak percaya.

“ Iya besok aku pergi. Haha senyum dong jangan cemberut gitu “ ujar Risky berusaha mencairkan suasana yang menyedihkan itu.

“ Yaudah, sekarang aku mau pulang “ ia lalu berlari meninggalkan Risky yang berdiri mematung di situ.

“ Eh tunggu. Kok kabur gitu aja sih? “ ujarnya kesal.

“ Jangan coba-coba deketin aku  lagi atau bakal kehilangan aku “ teriaknya pada Risky.

“ Ih dengerin aku dulu geh. Belum selesai nih ngomongnya “ teriak Risky dibelakanya yang sekuat tenaga berusaha menyusul gadis aneh yang berteriak-teriak di jalan bersamanya itu.

Nia melesat pergi menghindari Risky. Maaf aku nggak bisa lama-lama sama kamu, aku nggak mau kalo harus nangis di depanmu sekarang, ujarnya dalam hati. Sampai di rumah, kembali berkutat dengan ponselnya dan sibuk berbalas pesan dengan Risky. Katakan ini bukan bagian dari mimpi kan, ia masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia tahu bahwa beberapa keping bagian dari mimpi itu memang menjadi nyata dan itu benar terjadi. Hal itu seperti sudah di ramalkan melalui sebuah mimpi yang hadir. Satu hal yang masih ia tunggu, memastikan bahwa yang terjadi itu hanya kebetulan dan tidak mungkin berakhir persis dengan akhir mimpinya itu.

Beberapa bulan kemudian…

Menjalani hari yang biasa. Bersikap normal pada keadaan yang baru. Mungkin sedikit rasa sepi dan beberapa bagian dari otaknya terus ingin memutar hal-hal yang pernah terjadi dulu. Perlahan semua terus mengalir kembali normal, tapi tetap saja isi kepalanya terus mengingatnya. Hanya bagian dari kenangan saja kan, begitu ujar pada dirinya sendiri setiap saat ia ingat.

Nia kini mulai mendapatkan banyak teman-teman yang bisa mengisi kekosongannya. Tetap saja jika ia melihat teman-temannya harus lewat di depannya bersama seseorang ‘spesial’ akan muncul kembali rasa irinya. Sebagai ganti pelampiasannya, akan ia habiskan memandangi cowok-cowok keren dalam serial drama TV kesukaanya.

Suatu ketika ketika perjalanan pulang ia dikejutkan oleh kehadiran teman lamanya. “ Hai selalu sendirian aja nih pulangnya? “ saat Kevin berjalan di sebelahnya. “ Eh kok kamu di sini? Nggak kok aku lagi pingin pulang sendiri aja “ ujarnya pada kawan lamanya itu. “ Lagi pingin sendiri, atau lagi galau nih? “ canda Kevin. Pikirannya ternyata bisa ditebak oleh Kevin.

“ Ih Kevin apaan sih kamu tuh. Aku nggak galau tau “ teriaknya memarahi Kevin.

“ Tuh keliatan kamu habis nangis. Galau soal siapa sih neng? “ kata kevin yang memperhatikan Nia.

“ Iya ngaku deh lagi galau. Aku bingung aja sama seseorang yang sekarang malah jadi cuekin aku “ gadis itu menceritakan pada Kevin.

“ Jangan bilang dia kan? “ Kevin lalu mengerti siapa orang yang Nia maksud.

“ Udah woles aja, ntar dia pasti balik ke kamu kok. Ada waktu ketika dia ngerasa sendiri dan akhirnya dia akan inget kamu lagi. Santai aja deh. Oh iya kamu coba deh kapan-kapan tampil baru, dijamin deh nggak bakal galau lagi “ hibur Kevin.

“ Thanks ya Vin “

Ucapan Kevin mungkin benar. Ia akhirnya menuruti apa yang temanya itu katakan. Kali ini beberapa minggu setelah ia mengubah penampilannya, ia merasakan ada sebuah perubahan padanya. Ia mendapatkan lebih banyak lagi orang-orang yang akhirnya menjadi temannya. Ia benar-benar sudah berubah.

“ Nia, kamu udah denger kalo ada gosip soal kamu dideketin sama anak kelas sebelah? “ tanya Yesti ketika mereka pulang sekolah bersama.

“ Ih sama siapa? Ngaco deh, selama ini aku nggak dideketin sama siapa-siapa kok “ ujarnya kaget.

“ Itu loh sama Fiko, cowok yang jago basket itu. Masa sih? “ Yesti masih bingung mana yang benar dan salah.

“ Kapan deh aku pernah deket bareng cowok apa lagi sama cowok populer kayak Fiko? Percaya aja kamu sama gosip “ Nia berusaha meluruskan kabar itu.

“ Eh tapi kalo kamu sama Fiko cocok kok. Kenapa nggak jadi beneran aja sih? “ goda Yesti.

“ Ih apaan sih kamu “ wajah Nia berubah memerah saat temannya itu berkata seperti itu. sebenarnya diam-diam memang ia mengagumi cowok populer yang jago basket itu. Satu hal yang membuatnya terlihat biasa saja, banyak cewek cantik yang juga menyukai Fiko. Memikirkan cewek-cewek yang cukup cantik di sekeliling Fiko sepertinya akan membuatnya tidak akan masuk dalam daftar cewek idaman Fiko.

Beberapa hari berlalu, kabar itu masih saja memenuhi kalangan anak-anak di sekolah itu. untunglah sebagian besar juga ada yang tidak mengetahuinya. Beberapa minggu itu, ia merasa kabar kurang mengenakkan itu cukup mengganggunya. Masalahnya beberapa pengagum Fiko yang menjuluki diri mereka ‘Filovers’ menatanya sirik saat ia lewat. Akhirnya terpaksa, teman-teman dekat Nia pun turun tangan meluruskan kabar yang tengah beredar itu hingga situasi akhirnya membaik.

Suatu siang ketika dalam perjalanan pulang, ia melewati koridor sekolah yang mulai sepi. “ Eh kamu Nia kan? “ teriak seorang cowok ketika melihat Nia. Ia yang merasa dipanggil menoleh ke arah yang memanggilnya itu, Fiko. Perasaan kaget bercampur senang menyelimuti hatinya. “ Tolong dong lemparin bola basket di deket pintu itu “ . Bukannya melempar bola itu, ia sendiri berjalan mengantarkannya ke tengah lapangan basket itu melewati beberapa kumpulan anak cowok yang juga ikut bermain. “ Thanks ya. Bisa main basket? “ tanya cowok itu. perasaannya semakin berdebar-debar ketika cowok itu berbicara padanya. “ Em bi.. bisa “ ujar Nia gugup.

Siang itu, ia bermain basket bersama Fiko. Fiko heran melihat gadis itu karena beberapa taknik basket yang sulit ternyata bisa dikuasai oleh seorang cewek. Ketika hendak pulang Fiko memanggil Nia.

“ Nia boleh minta nomer  kamu? “ tanya cowok itu sambil mengeluarkan ponselnya.

“ Maksudnya? “ Nia sedikit bingung.

“ Aku mau minta nomer HP kamu. Mungkin siapa tau aku bisa contact kamu untuk ngajak main basket bareng “ ujar Fiko memecah kecanggungan.

“ Em boleh “ ia lalu mengeluarkan ponselnya juga.

Tak berselang lama, mereka semakin akrab. Fiko sering mengajak Nia bermain basket bersama. Hal itu semakin membuat beberapa murid heboh. Kabar yang sempat beradar pun memanas kembali. Nia juga sukses membuat “Filovers” iri padanya. Mereka menjadi sangat akrab dan sering terlihat bersama di sekolah. Bahkan mereka sering mengirim pesan dan itu bukan hanya membicarakan basket, tetapi banyak hal lain.

“ Kamu pacaran sama Fiko? “ tanya Yesti ketika berada di kantin.

“ Nggaklah. Kita cuma temenan aja Ti “ jawabnya singkat.

Ketika sedang membicarakan itu, orang yang dimaksud itu datang menghampiri Nia. “ Eh ntar siang bareng ya “ ujar Fiko lalu pergi ke sebrang meja dan menghampiri gengnya.

“ Ciyee.. pulang bareng sama Fiko. Bikin iri nih “ canda Yesti.

“ Aku kan udah bilang aku sama dia temenan aja kok “ ujarnya menepis yang diucapkan temannya.

Pulang sekolah itu, Fiko rupanya sudah menunggu Nia di dekat pintu gerbang. Mereka berjalan pulang bersama. Ada perasaan nyaman yang Fiko rasakan ketika berjalan bersama gadis itu. Memang terasa canggung, tapi Fiko benar-benar nyaman bersamanya.

“ Nia, aku mau ngomong “ gawat Fiko benar-benar tak sadar mengucapkan itu.

“ Ngomong apa? Ngomong aja lagi “ ujar Nia.

“ Gimana ya. Aku bingung mau ngomongnya “ cowok itu mengalihkan pandangan ketika Nia menatapnya.

“ Aku cuma mau nanya. Bener nggak sih kabar kalo kamu suka sama aku? “ ujar cowok itu tiba-tiba.

Suasana berubah menjadi penuh ke canggungan. Mereka berdua merasa berdebar-debar ketika sebuah pernyataan itu terlontar.

“ Aku pingin tau Nia “ ujar cowok itu lagi.

“ Sebenernya bisa dibilang kabar itu bener. Tapi aku tau kok kamu kan selera ceweknya cantik-cantik, nggak bakal deh aku masuk daftar cewek idamanmu “ gadis itu lalu tertawa untuk menghilangkan suasana canggung.

“ Gitu ya. Beberapa bulan belakangan ini semenjak kita bareng, aku ngerasa ada yang beda. Aku ngerasa nyaman sama kamu “ cowok itu berkata serius.

“ Maksud kamu? “ tanya Nia bingung.

“ Menurutmu kamu mau nggak jadi pacar aku “ Fiko mulai berkeringat ketika akhirnya menanyakan hal itu.

“ Em sejujurnya aku memang kagum sama kamu. Aku juga ngerasa hal yang sama belakangan ini “ jawab Nia.

“ Jadi? “ tanya Fiko kembali.

“ Apaan? “ gadis itu lalu berlari meninggaklan Fiko.

“ Jadian? “ ujar Fiko berusaha mengejar Nia.

“ Iya “ teriak gadis itu kabur meinggalkan Fiko.

Akhirnya sudah sekitar satu bulan berlalu. Mereka selalu terlihat bersama saat di sekolah. Akhirnya para ‘Filovers’ terpaksa merelakan idola mereka harus bersama Nia sekarang. Waktu terus berlalu. Suatu ketika Nia ingat akan satu hal  yang sudah dilupakkanya sejak lama. Mimpinya menjadi kenyataan. Sosok yang hadir bersama Nia kini seperti lahir dari sebuah mimpi. Seorang yang selalu peduli dan menyayangi Nia. Selalu bersamanya dan menjaganya, dialah Fiko.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here