Home Pojok Antara Cinta dan Melodi

Antara Cinta dan Melodi

SHARE
Ilustrasi (Foto: freepik)

Lewat Melodi Kutemukan Cintaku

 Melodi yang indah terdengar dari balik kesunyian

Dentingan merdu piano dan bunyi biola

Menuntunku menuju tempat yang takkuduga

Kurasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan

Kedua bunyi itu menggema dengan indah

Hingga tercipta pertunjukan yang takakan terlukiskan oleh kata

Ku temukan diriku

Memahami arti sebuah cinta lewat keindahan melodi

Entah apa yang aku rasakan pikiranku benar-benar melayang jauh kepada impian yang takakan mungkin ku dapatkan.

“ Resya, cepet nih ntar lagi latiannya dimulai ”

“ Sabar dikit ngapa Rin. Emang gue ini robot yang bisa diajak cepet ? “

“ bercanda kali Sya. Santai dong jangan cemberut mulu “

Awan kelabu tebal menutupi mentari yang ada diatas angkasa. Daun-daun kering berterbangan ditiup oleh hembusan angin kencang. Pikiran liar merasuk kedalam kepalaku, persis seperti film yang di putar di kepala pikirku. Hari ini memang pikiranku sedang kacau, tapi tetap aku paksa diriku berlatih biola. Mungkin dengan berlatih perasaan ku akan berubah menjadi baik-baik saja, batinku.

“ Erina? “

“ hadir “

“ Resya? “

“ hadir “

Kupejamkan mataku sembari memfokuskan pikiranku pada lagu ’ A Thousand Years ’karya   Christina Perri yang sedang kumainkan. Perlahan dapat kurasakan, jiwaku melayang seakan aku adalah nada yang keluar dari lantunan lagu ini. Aku benar-benar merasakan akulah pemeran utama lagu itu. Semua itu terjadi karena sebuah kata yang tak terdefinisikan dalam kamus hidupku, yaitu ‘ cinta ‘. Setelah memainkan lagu itu, aku merasa sangat puas karena lagu itu sebenarnya aku ingin mainkan di depannya. Di depan dia, orang yang selama ini telah membuatku berubah.

Tes….tes….tes….

Sepertinya awan kelabu itu takdapat membendung banyaknya air yang ingin ditumpahkannya. Aku dan Erin pulang dari les biola dengan keadaan sudah basah terkena air hujan. Terpaksa, kami berteduh di emperan toko untuk berlindung dari derasnya air hujan. Kupeluk koper biola ku rapat-rapat untuk melindunginya dari basah karena ada sebuah buku lagu yang aku buat sendiri. Lama sekali kami menunggu, rasa bosan menghampiri kami.  Kami mendengarkan lagu ‘Dia’  dari ponselku yang dinyanyikan oleh Sammy untuk mengusir kebosanan ini.

“ Ku ingin dia yang sempurna. Untuk diriku yang biasa. Ku ingin hatinya. Ku ingin cintanya. Ku ingin semuanya yang ada pada dirinya “

Angin lembut yang dingin mengusap kulitku dan membuat rambutku yang terurai bergerak mengikuti lembutnya angin yang membelai. Lagi-lagi pikiran liarku muncul, suasana ini hanya ada seperti dalam adegan film. Untunglah hujan kemudian berhenti meskipun awan mendung masih ada. Kami pun berpisah di persimpangan jalan.

“ see you, Resya moga harimu libur mu menyenangkan ya “

“ ok. See you too, Erin “

Dinginnya udara luar terus menerpa, aku menyesal tidak membawa jaket ketika akan pergi les. Sambil berjalan  aku merogoh saku celanaku dan mengambil ponselku, mencari tahu apakah ada pesan masuk. Nihil, tidak ada satu pun pesan darinya ketika aku ingin memasukkan ponselku kembali ke saku celana aku teringat seseuatu. Aku lalu membuka galeri foto, di sana tersimpan banyak sekali fotonya yang aku ambil diam-diam dari account facebooknya. Setidaknya dengan melihat fotonya membuatku merasa jauh lebih baik. Sampai di rumah, aku merasa sangat bosan sekali jadi aku masuk kamar dan berdiam diri di tahta kekuasaan ku.

“ BRUG “

Aku merebahkan diriku diatas kasur empuk yang super nyaman untukku. Sepertinya aku sudah terlalu besar seperti beruang sampai-sampai kasurku berbunyi ketika aku melompat keatasnya.

“  Resya, Mama mau pergi ke mall kamu jaga rumah ya “teriak mama dari depan pintu kamar.

“  ya Mama, kok aku suruh jaga rumah sih?”

“  ntar kalo gitu Mama nggak akan beliin kamu camilan “

“  iya deh aku jaga rumah. Da mama “

Tanpa aku tertidur hingga pukul lima sore. Sial, aku sudah berjanji untuk menemui Karin tapi terlambat. Dengan malasnya aku menuruni tangga ke lantai bawah. Aku melihat sekeliling rumah, tidak ada orang. Sepi sekali rumah ini kataku dalam hati. Dengan langkah yang masih terseok-seok, aku meraih remote TV dan menjatuhkan diriku di atas sofa yang super nyaman. Tanpa pikir panjang lagi, aku menekan tombol chanel TV yang setiap hari menayangkan film drama. Tanpa sadar aku terhanyut ke dalam film tersebut. Sama persis seperti yang pernah aku alami.

trtrrr……trrrrttt… “

siapa sih. Lagi enak nonton film ganggu“ gerutuku.

Mulutku tiba-tiba ternganga, ternyata Hans yang mengirimkan pesan ke ponselku. Benar-benar tidak diduga, kenapa ia mengirimkan pesan. Secepat kilat aku membalas SMSnya. Dia hanya mengatakan kalau partiturku tertinggal di ruangan les, dan tidak sengaja menemukannya. Yess, benar-benar kesempatan besar bagiku berbicara dengannya. Aku merasa dadaku seakan sesak, ingin meledak dan menghamburkan ribuan kelopak bunga yang berjatuhan.

Resya buka pintunya!“ teriak mama dari luar.

iya Ma, bentar dulu“ sahutku.

Setelah mama menurunkan semua belanjaannya, aku menghampirinya untuk mengambil pizza pesananku.

kenapa kamu senyum – senyum terus sih?“ tanya mama binggung.

Rupanya sedari tadi aku masih tersenyum terus karena pesan Kris. Oow jangan sampai mama tahu.

oh nggak apa – pa kok Ma“ kataku berusaha menyembunyikan.

Keesokan paginya, aku berangkat ke sekolah. Rupanya hari ini langit sedang murung dan tidak bersahabat. Air terus turun dari atas langit dengan derasnya. Aku terpaksa harus berjalan di tengah cuaca seperti ini hanya dengan payung sebagai pelindung. Ketika sedang melewati sebuah teras toko, aku mendengar seseorang berteriak memanggil namaku. Suaranya benar – benar tidak terlalu terdengar jelas karena di telan oleh derasnya hujan. Aku mencari – cari orang yang berteriak itu. Lalu aku mendengar bunyi langkah kaki yang berlari da menghampiriku. Hans benar – benar basah kuyup, tetapi penampilannya begitu keren saat itu dengan rambutnya yang berantakan terkena air hujan. Ia mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, rupannya partitur musikku.

kenapa kamu basah – basahan gitu, nggak takut sakit apa? “ tanyaku cemas.

tadi waktu lagi jalan tau – tau hujan. Lupa nggak bawa payung juga nih, basah deh “ jawabnya santai.

kalo gitu mau bareng, ntar bukumu basah semua kalo hujan – hujanan?

emmhh.. boleh“ katanya dengan senyum yang mengembang di pipinya.

Kami berdua berjalan melewati trotoar dan menembus derasnya guyuran hujan. Tidak terasa kami sudah tiba di sekolah dan kami harus berpisah karena kelas kami berbeda. Setelah pulang sekolah, aku pergi menuju tempat lesku bersama Erin. Di jalan aku bercerita panjang lebar tentang yang aku alami pagi ini. Ketika aku dan Erin sampai, tidak diduga les hampir dimulai. Dan rupanya Hans ada di kelas itu juga. Aku memeluk erat koper biolaku, dadaku berdetak dengan cepat. Ia sedang membawakan lagu dengan piano. Jari – jarinya menari dengan indahnya diatas tuts piao. Benar seperti di dalam surga.

“ Erina, Has, Kris, Resya “

hadir“ kami menjawab hampir bersamaan.

Tenyata hasil les kami selama tiga bulan ini akan di pentaskan di pentas musik.

Erina kamu akan memainkan biola bersama Kris“ kata pembimbing les

yes… Kris kita bakal jadi patner“ kata Erina girang.

yah Erina kamu kok sam dia sih, aku kan maunya sama kamu“ kataku dengan cemberut.

ya kan ntar kamu bakal sama Hans, ya kan Ms Curly?“ celetuk Erika.

iya Resya kamu akan menjadi pasangan duet bersama Hans“ kata Ms Curly.

Ya Tuhan, apa ini semua sudah Kau rencanakan. Erina dan Kris asik mengobrol tentang lagu yang akan mereka mainkan, sedangkan aku hanya terdiam seribu bahasa. Aku tidak sanggup berkata lagi.

Hans kita akan memainkan lagu apa untuk pentas musik?“ tanyaku sedikit gugup.

entahlah, bagaimana kalau musik klasik saja?“ katanya lembut.

terserahmu saja, aku hanya mengikuti yang kamu mau“ kataku.

baiklah ayo kita mainkan lagunya“ katanya sambil berjalan menuju tempat piano.

Kami berlatih dengan seriusnya. Aku sangat kagum dengan caranya ketika bermain piano. Di sela – sela latihan, aku selalu berusaha meliriknya bermain piano sambil fokus terhadap gesekan biolaku. Nada- nada indah mengalun perlahan, kami berdua berusaha sebaik mungkin untuk berlatih. Setiap sore kami selalu berlatih di tempat les. Tidak terasa, kami semakin dekat. Aku tidak pernah merasa sedekat ini. Kini aku bisa melihat wajahnya yang anggun bagai malaikat itu dari dekat.

Ketika hari pentas sudah hampir dekat, kami semakin giat berlatih. Kami berusaha idak membuang waktu untuk hal yang tidak perlu.

wah nggak terasa besok kita akan tampil“ kataku cemas

iya, besok kita harus membawakan yang terbaik. Ayo kita berdua harus berjuang!“ katanya menyemangatiku.

betul. Akan tetapi aku sangat gugup, aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya

Resya, kamu pasti bisa. Apapun yang terjadi aku akan selalu menyemangatimu. Pasti bisa!

terimakasih Hans. Terimakasih banyak

Dadaku berdebar cepat ketika ia mengatakan itu padaku. Baru kali ini ada seseorang yang selalu menyemangatiku ketika aku sedang merasa takut. Aku pasti bisa, demi dia. Demi Hans harus bisa.

Hari yang kami tunggu datang. Aku, Erina, Hans, dan Kris, kami semua merasa gugup. Ini pertamanya kami harus berhadapan dengan panggung. Dengan cahaya menyilaukan yang menyorot, dikelilingi oleh para penonton, dan menjadi pusat perhatian. Kami berempat berdandan sangat rapi. Erina dan Kris mengenakan baju berwarna merah, aku dan Hans berwarna putih. Setelah menunggu cukup lama tibalah giliran Erina dan Kris, mereka berusaha memainkan lagu yang terbaik.

ya Tuhan, aku benar – benar takut“ kataku gemetaran.

ayo Resya, kamu bisa“ kata Hans yang kemudian menggenggam tanganku.

baiklah kita harus berjuang bersama“ kata kami bersamaan.

Cahaya menyilaukan menyorot kami berdua. Kami sudah bersiap di tempat kami masing – masing. Dentingan lembut piano mulai mengalun indah. Aku memejamkan mataku, merasakan alunan musik merasuki jiwaku memenuhiku. Aku mulai menggesekan biolaku sesuai dengan lagu yang dimainkan. Aku sungguh gugup ketika kami akan memasuki puncak dari lagu itu. Saat ada jeda sebentar di lagu itu, kami berdua saling memandang dan menarik nafas sedalam mungkin. Ia menganggukan kepalanya, dan kami mulai memainkannya bersamaan. Suara yang halus mulai membahana,kami memainkan puncak dari musik ini. Musik itu membentuk harmoni yang indah, perpaduan antara piano dan biola. Aku bisa merasakan musik itu mengalir dalam darahku, merasuki lorong hatiku. Ketika musik mulai usai, kami mengkhirinya dengan perlahan dan lembut.

Tepukan tangan terdengar jelas di telingaku, usaha kami sudah selesai. Kami bergandengan tangan di tengah panggung dan memberi hormat.

akhirnya semuanya sudah selesai“ kata Hans lembut.

kita sudah berhasil. Ini berkatmu Hans, terimakasih banyak

ini bukan karena aku. Kamulah yang membuat permainan ini menjadi indah. Kita berdualah yang sudah membuatnya bersama“ sahutnya lagi dengan senyum yang indah.

Ketika kami berempat sudah selesai, kami keluar tempat pentas itu. Acara memang belum selesai, tetapi kami ingin segera merayakan keberhasilan kami. Ketika kami sedang mengobrol bersama, Hans menarik tanganku.

teman bisa aku dan Resya pergi sebentar?“ tanya Hans.

oh boleh…. ya sudah sana cepat“ kata Erina dan Kris bersemangat.

Ada apa in,aneh sekali. Hans membawaku ke lantai paling atas di cafe yang kita berempat kunjungi.

“ wah indah ya pemandangannya “ kata hans sambil meminum tehnya.

“ iya indah sekali “ kataku kagum

“ em.. Resya, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu “ katanya berhati – hati.

“ apa, katakan saja “ kataku.

“ kamu tahu lagu yang kita mainkan tadi? “ tanyanya.

“ tidak, yang aku tahu itu hanya musik klasik itu saja “ kataku lagi.

“ hanya itu saja yang kamu tahu? “ tanyanya lagi.

“ iya hanya itu saja, memangnya kenapa? “

“ yakin kemu tidak tahu itu Resya? “

Aku benar – benar seperti di beri pertanyaan bodoh olehnya. Ada apa sebenarnya, apa lagu itu. Kami seperti bermain tebak – tebakan.

“ cepat katakan apa maksudmu! “ kataku sedikit jengkel.

“ lagu itu…. “ katanya tidak meneruskan kalimatnya.

“ lagu itu kenapa? “ kataku jengkel.

“ baiklah. Lagu itu sebenarnya lagu buatanku. Lagu itu aku buat untukmu. Lagu itu melukiskan perasaanku yang kagum akan dirimu Resya “ katanya berterus terang.

“ maksudmu apa Hans? “ kataku benar- benar tidak tahu.

“ aku menyukaimu Resya “ katanya lagi.

“ apakah aku tidak salah dengar itu Hans? “

“ iya aku serius, maukah kamu menerimaku? “ tanyanya lagi

Jantungku berdetak, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Tidaklama kemudian, aku mendengar bunyi alunan sebuah lagu. Lagu tersebut adalah lagu yang aku dan Hans mainkan. Aku tidak bisa berkutik, lagu itu sudah merasuk kedalam diriku. Aku menemukan lagu itu membawaku ke sebuah tempat yang tidak aku ketahui.

“ Melodi indah terdengar dari balik kesunyian

Dentingan merdu piano

Memanggilku menuju tempat yang takkuduga

Kurasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan

Melodi merdu terus beriringan

Gesekan merdu sang biola

Memadukan pertunjukan yang takakan terlukiskan oleh kata

Ku temukan diriku

Memahami arti sebuah cinta “

Ketika aku mendengar lagu itu, aku sudah tidak bisa melukiskan perasaanku yang benar-benar terpana oleh kharisma lagu itu. Seperti didalam cerita film drama yang sering aku lihat.

“ apa jawabanmu Resya? “

“ ya Hans, aku juga menyukaimu sejak lama “

“ terimakasih untuk lagu itu “ kataku lagi.

“ terimakasih Hans. Terimakasih untuk semuanya “

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here